Perlawanan Saparua (Maluku) sesudah Tahun 1800

     Pada tahun 1817, terjadi perubahan penguasa pemerintahan di Indonesia. Belanda kembali berkuasa di Indonesia menggantikan Inggris. Bergantinya penguasa di Maluku dari tangan Inggris ke pemerintah kolonial Belanda itu menimbulkan rasa tidak puasa dan kegelisahan rakyat Maluku. Hal itu karena Belanda menerapkan kebijakan yang sangat berbeda dari Inggris. Pemerintah kolonial Belanda memberlakukan kembali penyerahan wajib dan kerja wajib yang pada masa pemerintahan Inggris telah dihapus. Selain itu, pemerintah kolonial Belanda menurunkan tarif berbagai barang yang disetor, sedangkan pembayarannya ditunda-tunda. Oleh karena itu, rakyat Maluku melakukan perlawanan.

     Perlawanan rakyat saparua terjadi pada bulan Mei-Desember 1817. Perlawanan rakyat Saparua dipimpin oleh Thomas Matulesy atau Pattimura, Anthony Reebok, Christina Martha Tiahahu, Philip Latumahina, dan Thomas Pattiwael. Pada tanggal 15 Mei 1817, rakyat Maluku menyerbu pos Belanda di Porto. Keesokan harinya rakyat Maluku mengepung Benteng Duurstede dan berhasil merebutnya. Belanda terus-menerus menembaki  daerah pertahanan Pattimura sehingga Benteng Duurstede dikosongkan. Pada bulan November 1817, Belanda mengadakan serangan besar-besaran. Akhirnya, para pemimpin perlawanan rakyat Saparua tertangkap, seperti Anthony Reebok, Thomas Pattiwael, Raja Tiow, dan Lukas Latumahina. Pattimura sendiri tertangkap di Seri Seri yang kemudian dibawa ke Saparua. Belanda membujuk Pattimura untuk diajak kerja sama, Namun Pattimura menolak. Pada tanggal 16 Desember 1817, Pattimura dijatuhi hukuman gantung di depan Benteng Victoria. Begitu pula, Christina Martha Tiahahu berhasil ditangkap oleh Belanda, Kemudian diasingkan ke Pulau Jawa.

0 Response to "Perlawanan Saparua (Maluku) sesudah Tahun 1800"

Post a Comment