Pembentukan Partai-Partai Politik

Add Comment
     Pada tanggal 27 Agustus 1945, pengurus harian Partai Nasional Indonesia (PNI) diumumkan. Dua Hari kemudian diumumkan pengurus yang lebih lengkap terdiri dari atas Ir. Soekarno (Pemimpin besar Pertama), Drs. Mohammad Hatta (Pemimpin Besar Kedua), Mr. Gatot Tarunamihardja (Pemimpin Umum atau ketua Partai), dan dr. Moewardi (Ketua Seksi Organisasi). PNI pada waktu itu diharapkan menjadi satu-satunya partai politik di Indonesia. Akan tetapi, pembentukan PNI ini mengundang reaksi penolakan dari berbagai beberapa pihak. Sutan Sjahrir dengan kelompoknya menganggap pembentukan partai tunggal bertentangan dengan paham demokrasi. Oleh karena itu, pembentukan PNI dibatalkan atau ditunda untuk sementara waktu. Sejak saat itu gagasan satu partai ini tidak pernah hidup lagi.

     Pada tanggal 3 November 1945 , pemerintah mengeluarkan Maklumat Pemerintah yang ditandatangani oleh wakil presiden. Keluarnya Maklumat Pemerintah 3 November merupakan usulan dari Ketua BP-KNIP, Sutan Sjahrir. Maklumat ini dimaksudkan adalah negara yang menganut sistem demokrasi, bukan negara boneka fasis Jepang. Setelah keluar Maklumat Pemerintah 3 November 1945, di Indonesia muncul berbagai partai politik. Isi maklumat tersebut sebagai berikut. 
a. Pemerintah menghendaki adanya partai-partai politik yang bertujuan untuk menampung segala aliran atau paham yang ada dalam masyarakat.
b. Pemerintah berharap supaya partai-partai itu telah terbentuk sebelum dilaksanakan pemilikihan anggota Bada Perwakilan Rakyat pada bulan Januari 1946.

Masa Kekuasaan VOC di Indonesia

Add Comment
     Pada tahun 1650, VOC berhasil mengakhiri kekuasaan Portugis di Indonesia untuk selamanya. Untuk mengisi kasnya yang kosong, VOC menerapkan kebijakan penyerahan wajib (Verplichte Leverantie) dan aturan Priangan (Preangerstelsel). Verplichte Leverantie mewajibkan rakyat di setiap daerah untuk menyerahkan hasil buminya kepada VOC menurut harga yang ditentukan. Hasil bumi yang wajib diserahkan, yaitu lada, kayu manis, beras, nila, gula, dan kapas. Adapun aturan Priangan mewajibkan rakyat Priangan menam kopi untuk diserahkan kepada VOC. Untuk mencegah terjadinya bebragai pelanggaran terhadap dalam peraturan monopoli di Maluku, VOC mengadakan patroli yang disebut Ekspidisi Hongi (Hongi-tochten). Patroli itu menggunakan perahu tradisional yang disebut kora-kora. Kespidisi Hongi, yaitu pelayaran yang bertujuan untuk mencegah petani melakukan hubungan dagang dengan pihak lain. Petani yang melanggar aturan monopoli dengan menjual cengkihnya ke pedagang Jawa dan Melayu maka pohon cengkihnya ditebang habis oleh VOC (hak ekstirpasi).

    Setelah hampir dua abad berkuasa di Indonesia, memasuki abad ke-19 VOC mengalami kebangkrutan. Pada tanggal 31 Desember 1799, VOC resmi dinyatakan bangkrut dan seluruh aset miliknya berada di bawah kekuasaan negara Belanda. Saat dibubarkan, VOC menanggung hutang 137 juta gulden. Hak dan kewajibannya diambil alih oleh pemerintah Republik Bataaf di bawah kendail Prancis. Bangkrutnya VOC disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut.
a. Rendahnya gaji yang diberikan kepada para pegawai VOC menyebabkan mereka bertindak curang atau korupsi.
b. Kuatnya persaingan dagang dengan kongsi-kongsi dagang lain, yaitu kongsi dagang Prancis dan kongsi dagang Inggris.
c. Pembayaran deviden (keuntungan) bagi pemegang turut memberatkan setelah pemasukan VOC mengalami penurunan.
d. Terlalu banyaknya biaya yang harus dikeluarkan untuk mengatasi perlawanan rakyat di Indonesia.
e. Perubahan politik di Belanda dengan berdirinya Republik Bataaf (1795) yang demokratis dan liberal yang berpandangan bahwa perdagangan harus dilakukan secara bebas sehingga VOC perlu dibubarkan

Sejarah Pembentukan VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie)

Add Comment
      Sejarah Pembentukan VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) - Sebelum VOC terbentuk, di antara para pedagang Belanda terlibat persaingan tidak sehat. Untuk mencegah perkehalian antarkelompok dagang dan kerugian dagang makan dibentuklah VOC.

     VOC atau serikat Serikat Perusahaan Dagang Hindia Timur didirikan pada tangal 20 Maret 1602. Usul pendirian VOC dikemukakan oleh seorang anggota Parleman Belanda (Staten Generaal) bernama Johan van Oldenbarnevelt. VOC membuka kantor pertamanya di Banten (1602) yang dikepalai oleh Francois Wittert. Tujuan dibentuknya VOC adalah untuk menghindari persaingan tidak sehat diantara para pedagang Belanda. Selain itu, bertujuan untuk mengintensifkan perdagangan di kawasan Indonesia dan menghadapi persaingan dagang dengan kongsi dagang bangsa Eropa lainnya.

     VOC memiliki hak-hak istimewa (Oc-trooi) yang dirumuskan oleh Parlemen Belanda (Staten Generaal) tanggal 20 maret 1602. Hak Octrooi meliputi hak monopoli dan hak kedaulatan. Hak monopoli mengatur hak untuk berdagang dan berlayar di wilayah sebelah timur Tanjung Harapan dan sebelah barat Selat Magellan serta menguasai perdagangan untuk kepentingan sendiri. Hak kedaulatan mengatur hak untuk dapat bertindak layaknya suatu negara untuk memiliki angkatan perang; memaklumkan perang dan mengadakan perdamaian; merebut dan merebut daerah-daerah asing di luar Belanda; menetapkan dan mengeluarkan mata uang sendiri; memerintah daerah-daerah yang telah dikuasai; menjalankan kekuasaan kehakiman; memungut pajak.

     VOC dikendalikan oleh para pemegang saham yang terdiri atas beberapa kamar dagang. Kamar dagang itu diwakili oleh 17 orang direktur atau de Heeren XVII. Untuk memerintah di Indonesia, VOC mengangkat gubernur jenderal yang bertugas sebagai direktur perusahaan dan pemimpin pemerintahan.  Gubernur Jenderal VOC yang pertama adalah Pieter Both. Pada awalnya, kantor Gubernur Jenderal VOC berada di Ambon. Namun, letak Ambon setelah beberapa waktu dirasakan kurang strategis sehingga VOC berkeinginan menguasai daerah lain untuk dijadikan pangkalan dagangnya. Perhatian VOC ditujukan ke Jayakarta yang masuk wilayah Kerajaan Banten. Di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen, VOC berhasil merebut Jayakarta pada tahun 1619. Pada tanggal 30 Mei 1619, Jan Pieterszoon Coen meresmikan Jayakarta sebagai Batavia. Dengan dibangunnya Kota Batavia, kegiatan VOC menjadi Makin lancar. Kedudukannya di Indonesia pun makin kuat.

Bangsa Eropa Tiba di Indonesia

Add Comment
     Melalui penjelajahan samudra, bangsa-bangsa Barat berhasil mencapai wilayah Indonesia. Bangsa Barat yang berhasil mencapai atau tiba Indonesia adalah bangsa Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris. Berikut beberapa alasan beberapa bangsa barat tiba di Indonesia.

a. Bangsa Portugis Tiba di Indonesia
     Rombongan bangsa Portugis tiba di Indonesia di bawah pimpinan Alfonso d' Albuquerque. Pada tahun 1511, Alfonso d'Albuquerque berhasil menaklukkan malaka yang merupakan bandar dagang yang sangat ramai di Asia. Setelah berhasil menguasai Malaka, Alfonso d'Albuquerque meneruskan ekspedisinya ke timur sampai di Maluku pada tahun 1512. Rombongan Portugis ini diterima baik oleh kerajaan Ternate yang saat itu terlibat persaingan dengan Kerajaan Tidore. Selanjutnya, Raja Ternate meminta bantuan Portugis dalam melawan Tidore. Atas bantuan Portugis, Tidore dapat dikalahkan ternate. Sebagai imbalannya, Portugis diizinkan untuk mendirikan sebuah benteng (Benteng Sao Paulo) di ternate, Portugis juga mendapatkan hak monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku, bangsa Portugis juga aktiv menyebarkan agama Katolik yang dilakukan oleh Fransiscus Xaverius.

b. Bangsa Spanyol Tiba di Indonesia
     Pada tahun 1521, bangsa Spanyol tiba di Indonesia di bawah pimpinan Sebastian d'Cano. Pelayaran d'Cano adalah melanjutkan pelayaran Ferdinand Maggellan yang terbunuh di Filipina. Di bawah d'Cano, bangsa Spanyol tiba di Tidore. Bangsa Spanyol diterima dengan baik dan dijadikan sekutu oleh kerajaan Tidore. Pada saat itu, terjadi pertempuran antara Ternate yang dibantu Portugis dan Tidore dibantu Spanyol. Pertempuran tersebut dimenangkan oleh Ternate yang didukung oleh Portugis. Akibatnya, Spanyol harus keluar dari wilayah Indonesia berdasarkan Perjanjia Saragosa. Dengan demikian, Portugis tetap berkuasa di Maluku, sedangkan Spanyol berkuasa di Filipina.

c. Bangsa Inggris Tiba di Indonesia
     Perhatian Inggris atas Indonesia sudah dimulai ketika pada tahun 1579 penjelajah asal inggris bernama Francis Drake singgah di Ternate, Maluku. Untuk mengadakan hubugngan dagang dengan kepulauan rempah-rempah di Asia, Inggris membentuk East India Company (EIC). Pada tahun 1602 armadanya sampai di Banten dan mendirikan loji di sana. Pada tahun 1604, Inggris membuka hubungan dengan Ambon dan Banda. Pada tahun 1609, Inggris mendirikan pos di Sukadana (Kalimantan). Pada tahun 1613, Inggris berdagang dengan Makassar pada tahun 1614 Inggris mendirikan loji di Batavia.
     Pengaruh Inggris di Indonesia tidak sekuat bangsa Eropa lainnya. Hal itu disebabkan oleh ketidakmampuan Inggris bersaing dengan Belanda. Belanda tidak segan-segan menggunakan kekerasan untuk mengusir Inggris dari Indonesia. Dengan kekuatan militer dan kemampuan memengaruhi penguasa setempat, armada dagang Belanda mampu membuat Inggris perlahan-lahan tersingkir dari kawasan perdagangan di Indonesia. Setelah terusir dari Banten pada tahun 1682, Inggris memperkuat kedudukannya di Sumatra.

d. Bangsa Belanda Tiba di Indonesia
     Ekspidisi awal Belanda ke Indonesia dipimpin oleh Cornelis de Houtman dan Pieter Dirkszoon Keyser. Para pedagang Belanda melakukan ekspidisi ke Indonesia karena para pedagang Belanda dilarang melakukan transaksi di Lisbon dan pelabuhan Portugis yang lain. Akibatnya, para pedagang Belanda tidak dapat membeli rempah-rempah di Eropa. Hal inilah yang mendorong para pedagang Belanda berlayar menuju pusat penghasil rempah-rempah, yaitu Indonesia. Pedagang Belanda ini berangkat dari Tessel tanggal 21 Maret 1595 menggunakan empat kapal. Setelah berlayar selama 15 bulan, mereka tiba di Banten tanggal 22 Juni 1596. Karena tindakannya kurang baik, ekspidisi  Belanda pertama ini diusir dari Banten. Selanjutnya, mereka berlayar ke timur menuju Maluku. Akan tetapi, usaha tersebut gagal karena munculnya permusuhan dengan para penguasa lokal di Indonesia. Akhirnya, kespidisi yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman ini kembali ke Belanda. Meskipun mengalami kegagalan, ekspidisi pertama ini telah membuka jalan bagi pelayaran-pelayaran bangsa Belanda selanjutnya.